Pekanbaru – Peradi kubu Otto Hasibuan berada pada posisi terjepit. Agenda melanjutkan Munas II wadah tunggal organisasi advokat itu sulit terealisasi karena rekomendasi pelaksanaan munas dan kepastian pengamanan dari Kepolisian dibatalkan. Artinya, jika terjadi benturan maka acara bakal dibubarkan.

Ketua Pusat Bantuan Hukum Peradi sekaligus Wakil Sekretaris Panitia Pelaksana Munas II, Rivai Kusumanegara tidak menampik kalau pembatalan rekomendasi yang dilakukan pada 9 Juni 2015 menyulitkan pihaknya untuk melanjutkan suksesi.

“Kami hanya bisa menyatakan kekecewaan, dan menurut kami pencabutan pengamanan tidak menghalangi hak kami berdemokrasi,” kata Rivai, di Hotel Labersa, Pekanbaru, Riau, Jumat (12/6) malam.
Agenda munas yang rencananya dibuka pukul 19.00 hingga pukul 21.00 belum digelar lantaran adanya gangguan terkait pengamanan.

Bahkan, fasilitas milik hotel berupa bangku tidak sedikit yang rusak lantaran benturan fisik dari oknum yang memaksa masuk ke dalam pada siang harinya.

“Kepolisian telah menarik petugas yang tadinya telah disepakati,” jelasnya.

Menurutnya, pihaknya telah mendapatkan rekomendasi pelaksanaan munas dari Polres Kampar melalui surat pada 8 Mei 2015. Polres Pekanbaru juga ikut memberi rekomendasi tanggal 22 Mei 2015 yang kemudian diteruskan ke Polda Riau sebelum diteruskan ke Baintelkam Mabes Polri tanggal 27 Mei 2015. Selain rekomendasi, pihak Kepolisian juga menjanjikan pengamanan.

“Namun, dua hari sebelum munas dilaksanakan rekomendasi dari polisi sendiri dibatalkan Mabes Polri. Alasannya juga ganjal yaitu adanya dualisme di Peradi. Padahal, semua pihak tahu kalau munas yang ditunda di Makassar karena ricuh hingga ada yang mengklaim sebagai ketua atau ‘caretaker’,” ujarnya.

Pihaknya menduga, pembatalan rekomendasi Kepolisian terjadi akibat adanya intervensi. Namun, dirinya enggan menjelaskan lebih spesifik tentang kekuatan yang dimaksud.

“Ada intervensi kekuatan tertentu agar polisi tidak memberikan pengamanan. Namun, kami tetap lanjut dengan segala risiko yang akan dihadapi,” lanjutnya.

Rivai menegaskan, pihaknya tidak mau rugi dua kali lantaran pelaksanaan munas yang terus dihambat. Dengan begitu upaya melanjutkan Munas II dengan agenda utamanya pemilihan Ketum Peradi periode 2015-2020 tetap akan dilakukan.

Apalagi, pihaknya telah memberitahu Kepolisian akan agenda itu meski rekomendasinya dibatalkan. Lagipula, pelaksanaan munas tidak membutuhkan izin dari Kepolisan.

“Petunjuk pelaksanaan (Juklak) Kapolri nomor 02/XII/1995 tentang perizinan dan kegiatan masyarakat mengatur pelaksanaan munas tidak membutuhkan izin tetapi cukup pemberitahuan yang telah kami lakukan. Kalau izin itu terkait dengan pertandingan sepakbola atau konser musik terbuka,” jelasnya.

Dikatakan, pihaknya telah mengundang Peradi kubu Juniver Girsang maupun, kubu yang telah menunjuk Humphrey Djemat, Luhut Pangaribuan dan Hasanuddin Nasution sebagai “caretaker” untuk menggelar munas. Namun, pihak-pihak yang dimaksud tidak menampakan diri.

Rivai meyakini, kalau pihaknya tetap melanjutkan munas hingga tuntas hasilnya tetap sah karena telah memenuhi kuorum kendati, Juniver Girsang, Humphrey Djemat, Luhut Pangaribuan, dan Hasanuddin Nasution beserta pendukungnya tidak hadir.

“Semua DPC atau 67 DPC kita undang. Kuorum itu lebih dari setengah. Informasi yang ada sekarang sudah setengah,” katanya.

sumber : http://www.beritasatu.com/nasional/282100-peradi-kubu-otto-hasibuan-terjepit.html